Wednesday, May 30, 2007

Gerakan Mahasiswa Memprihatinkan

Gerakan Mahasiswa Memprihatinkan
Oleh : Ubedilah Badrun

Membaca berita sejumlah media nasional (9/5) yang memberitakan Seminar Nasional BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa ) Nusantara II yang di buka Presiden Soesilo Bambang Yoedoyono dan melihat foto betapa ekspresifnya para aktivis BEM tertawa terbahak-bahak bersama Presiden cukup membuat dahi berkernyit sejenak dan memunculkan sejumlah tanda tanya. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana mungkin label moral force, values political movement dan oposisi permanen yang selama ini melekat pada diri gerakan mahasiswa dinodai dengan bermesraan bersama Presiden yang notabene sebagai pemimpin pemerintahan yang patut diawasi dan dikritik langkah-langkah kebijakannya oleh mahasiswa? Bukankah mahasiswa adalah penjaga moral dan pilar demokrasi yang paling independen? Adakah pergeseran nilai terjadi pada gerakan mahasiswa 2007 ini? Setidaknya ada tiga hal yang perlu dikemukakan untuk membaca fenomena yang memprihatinkan ini, yakni menyangkut miskinnya idiologi gerakan mahasiswa, minimnya tradisi intelektual, dan reposisi gerakan mahasiswa.
Miskin Idiologi
Mencermati gerakan mahasiswa dalam perspektif ideologi merupakan hal mendasar untuk membaca langkah-langkah gerakan mahasiswa 2007. Hal ini dilakukan untuk menjelaskan sejauhmana ideologi mempengaruhi gerakan mahasiswa. Lalu, bagaimana wajah idiologi mahasiswa saat ini? Untuk menjawab pertanyaan ini ada baiknya dikemukakan beberapa kajian tentang idiologi. Menurut Frans Magnis Suseno, ideologi dimaksud sebagai keseluruhan sistem berfikir, nilai-nilai dan sikap dasar rohaniah sebuah gerakan, kelompok sosial atau individu. Ideologi dapat dimengerti sebagai suatu sistem penjelasan tentang eksistensi suatu kelompok sosial, sejarahnya dan proyeksinya ke masa depan serta merasionalisasikan suatu bentuk hubungan kekuasaaan. (Franz Magnis Suseno, 1992).
Dengan demikian, ideologi memiliki fungsi mempolakan, mengkonsolidasikan dan menciptakan arti dalam tindakan masyarakat. Ideologi yang dianutlah yang pada akhirnya akan sangat menentukan bagaimana seseorang atau sekelompok orang memandang sebuah persoalan dan harus berbuat apa untuk mensikapi persoalan tersebut. Dalam konteks inilah kajian ideologi menjadi sangat penting, namun seringkali diabaikan.
Istilah ideologi adalah istilah yang seringkali dipergunakan terutama dalam ilmu-ilmu sosial, akan tetapi juga seringkali dipahami sebagai istilah yang abstrak. Banyak para ahli yang melihat ketidakjelasan ini berawal dari rumitnya konsep ideologi itu sendiri. Ideologi dalam pengertian yang paling umum dan paling dangkal biasanya diartikan sebagai istilah mengenai sistem nilai, ide, moralitas, interpretasi dunia dan lainnya. Menurut Antonio Gramsci, ideologi lebih dari sekedar sistem ide. Bagi Gramsci, ideologi secara historis memiliki keabsahan yang bersifat psikologis. Artinya ideologi ‘mengatur’ manusia dan memberikan tempat bagi manusia untuk bergerak, mendapatkan kesadaran akan posisi mereka, perjuangan mereka dan sebagainya (Roger Simon, Gagasan-gagasan Politik Gramsci, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 1999).
Dari penjelasan diatas setidaknya idiologi dapat dipahami sebagai ide sistimitas dan cita-cita atau proyeksi masyarakat masa depan yang diyakini sebagai kebenaran dan diperjuangkan melalui tindakan nyata. Oleh karena itu akan terihat adanya suatu korelasi antara tindakan dan ideologi, artinya tindakan seringkali terjadi merupakan representasi dari ideologi atau seringkali bersumber dari sebuah ideologi yang dimiliki seseorang atau komunitas masyarakat. Dalam konteks ini, fenomena gerakan mahasiswa Indonesia bisa jadi dilatari oleh ideologi-ideologi yang dimilikinya. Meskipun kepemilikan ideologi tersebut hanya dimonopoli oleh sejumlah elit atau pemimpin dari gerakan mahasiswa.
Lalu, apa bukti yang menguatkan bahwa mahasiswa bergerak dengan ideologinya?”. Kalau dicoba ditelusuri, maka sebetulnya secara sederhana bisa di lihat dari tindakannya atau gerakan yang dilakukannya. Hal ini bisa dilihat lebih tajam lagi ketika pada gerakan mahasiswa Indonesia terjadi polarisasi hingga kemudian mengkristal secara ekstrim membentuk beberapa tipologi gerakan mahasiswa, yakni antara pragmatis, realis-kritis, dan radikal-revolusioner sebagaimana yang telah disinyalir sejumlah media massa pada november 1998 lalu. Gerakan mahasiswa yang pragmatis adalah representasi dari gerakan yang sangat miskin idiologi pergerakan, dan karenanya tidak layak disebut gerakan mahasiswa.
Dua klasifikasi gerakan mahasiwa (realis-kritis dan radikal-revolusioner) adalah contoh gerakan mahasiswa yang memiliki idiologi. Gerakan mahasiswa realis-kritis ini adalah mereka yang berfikir realistik tetapi sambil mengusung sejumlah agenda politik dengan cara-caranya yang kritis. Artinya gerakan mahasiswa mirip di posisikan sebagai koboi sebagaimana yang pernah di ulas So Hok Gie mengutip siaran radio Ampera dalam Zaman Peralihan. Bahwa perjuangan mahasiswa adalah seperti perjuangan Koboi. Seorang Koboi datang disebuah kota dari horizon yang jauh. Di kota ini sedang merajalela perampokan, perkosaan, dan ketidakadilan. Koboi ini menantang sang bandit berduel, dan ia menang. Setelah banditnya mati, penduduk kota yang ingin berterima kasih mencari sang Koboi. Tetapi ia telah pergi ke horizon yang jauh. Ia tidak ingin pangkat dan sanjungan. Ia akan datang lagi kalau ada bandit-bandit lain yang berkuasa. Ini yang kemudian dikenal sebagai moral force. (Soe Hok Gie, Zaman Peralihan, Gagas Media, 2005).
Sementara gerakan mahasiswa radikal-revolusioner adalah mereka yang berfikiran radikal, mempunyai cita-cita radikal, dan bertindak revolusioner. Artinya gerakan mahasiswa tidak sekedar moral force tetapi sudah masuk dalam kategori gerakan politik nilai atau sebuah gerakan politik yang radikal untuk menerapkan cita-cita (nilai) yang diinginkanya. Ini yang kemudian disebut values political movement. Pada gerakan mahasiswa radikal-revolusioner ini, pada titik tertentu dia bisa bergeser menjadi power political movement atau sebuah gerakan politik untuk merebut kekuasaan. Pada kategori kedua ini nampak ada basis idiologi yang kuat dalam pergerakannya. Sebab organisasi pergerakan mahasiswa yang berbasis idiologi adalah mereka yang terus berjuang mencapai cita-cita idiologisnya.
Perihal seminar nasional BEM Nusantara II tahun 2007 yang bermesraan di Istana Negara tidaklah layak disebut sebagai gerakan mahasiswa realis-kritis apalagi radikal-revolusioner. Sebab dari perilaku politiknya baik dari segi tempat kegiatan yang dimulai dari Istana, para pembicaranya yang kebanyakan para penguasa saat ini, miskinnya gagasan, dan lemahnya greget perjuangan, maka layaklah jika penulis sebut sebagai fenomena gerakan mahasiswa yang miskin idiologi. Jika pun mereka para pemimpin mahasiswa yang ke Istana mengaku memiliki idiologi , maka idiologinya telah tergadaikan demi kepentingan sesaat.
Minimnya Tradisi Intelektual
Sebab mendasar dari miskinnya idiologi pada gerakan mahasiswa saat ini adalah minimnya tradisi intelektual dikalangan mahasiswa. Tradisi intelektual adalah kebiasaan yang dicipta secara sadar oleh mahasiswa dan terus-menerus berlangsung dalam melakukan analisis terhadap teori-teori pengetahuan dan kenyataan sosial, antara asah otak dan asah kepedulian nurani untuk kepentingan orang banyak. Tradisi intelektual tidak sekedar membangun budaya baca, tulis, diskusi, dan riset, tetapi juga membangun budaya kepekaan sosial yang dalam.
Dari pengamatan penulis di sejumlah kampus di Jakarta, lebih dari 70 % kampus di Jakarta mahasiswanya minim tradisi intelektual, kemungkinan juga terjadi pada perguruan tinggi di daerah. Disini persoalannya juga menyangkut kultur universitas yang semakin kering spirit idialisme, kering spirit perbaikan, perubahan, dan perjuangan. Civitas akademika juga disibukan dengan penelitian-penelitian yang sebetulnya hanya sekedar memenuhi standar proyek dari departemen atau lembaga donor tertentu. Orientasi keilmuan dan kepekaan sosial sangat minim, yang terjadi justru didasari orientasi yang semata-mata uang. Bagaimana mungkin sebuah lingkaran kerjasama produktif antara universitas, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sekitar kampus bisa dibangun jika tradisi intelektual sangat minim di kampus-kampus ? Mahasiswa adalah agen utama dari proses pembangunan tradisi intelektual di kampus.
Reposisi Gerakan Mahasiswa
Seminar Nasional BEM Nusantara II yang dibuka di Istana adalah cermin dari kebingungan memposisikan diri sebagai mahasiswa ditengah-tengah kekuatan politik yang sedang berkuasa. Miskinya idiologi dan minimnya tradisi intelektual sebagaimana diuraikan diatas adalah faktor substantif yang turut mempengaruhinya. Sebagai fenomena baru dalam sejarah pergerakan mahasiswa, langkah aktivis BEM ini patut diingatkan. Tentu saja tidak ada hak untuk melarang aktivis BEM, tetapi persoalanya bukan pada level hak namun pada level ketergugahan nurani. Sebab dalam sejarah pergerakan mahasiswa yang berbasis di kampus dan bukan organisasi kemasyarakatan, maka yang sepatutnya dikedepankan adalah independensi pergerakan mahasiswa kampus dan kepekaan pada realitas masyarakat yang saat ini masih terus dirundung kepedihan. Langkah aktivis BEM ini bisa saja dimaklumi jika BEM sama dengan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) yang jelas-jelas dibawah kendali pemerintah.
Reposisi adalah kata kunci yang perlu segera dilakukan terhadap organisasi dan aktivis BEM. Kembali kepada independensi gerakan moral yang realis-kritis atau gerakan radikal-revolusioner adalah lebih pas dengan eksistensi BEM sebagai komunitas yang masih memiliki energi kepemudaan.
Ubedilah Badrun, pengajar Sosiologi Politik Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Jakarta ( UNJ) dan pemerhati gerakan sosial politik di Indonesia.

4 Comments:

Blogger maydina said...

Pak...saat itu terjadi..kami (sy n persma kampus A saya..) juga kesell n malu banget ngeliat kelakuan rekan2 mahasiswa... Mulai dari pemberitaan di televisi, hingga fasilitas nginep di hotal X bagi mereka semua yang membuahkan hasil nggak jelas.Banyak idealisme temen2 sudah pada luntur. Kami yang ketika itu hendak menulis tentang itu di media kami..mengkritisi mereka..juga tidak bisa...disebabkan pemRed kami, telah terlanjur mengikat kontrak membuat edisi khusus tentang narkoba dengan pihak kampus.
Ketika itu...kami hanya dapat memberikan bentuk kepedulian kami untu membuka mata temen2 denagn tulisan '12 Mei jangan sekedar WACANA'. yang ditempelkan di tembok2 dan kendaraan saat demo.
----------------But..percaya deh pak..masih banyak orang2 yang idealis.---
Btw Pak..tolong semangatin Aldi donk...dia sempet aktif di presma dan persma (pers mahasiswa), tapi ntah kenapa sepertinya kini ia kehilangan semangat...Mungkin keadaan yang mematikan semngatnya..realita yang ia hadapi ketika itu...

maydina

7:56 PM  
Blogger maydina said...

This comment has been removed by the author.

7:56 PM  
Blogger SEKJEN PENA 98 said...

Memang banyak yang pergi
Tidak sedikit yang lari
Sebagian memilih diam bersembuyi
Tapi… Perubahan adalah kepastian
dan untuk itulah kami bertahan
Sebab kami tak lagi punya pilihan
Selain terus melawan sampai keadilan ditegakan!

Kawan… kami masih ada
Masih bergerak
Terus melawan!
www.pena-98.com
www.adiannapitupulu.blogspot.com

10:49 PM  
Blogger Abdul Malik Mughni, said...

salam,
aku adalah salah-satu peliput dari Kampus.. yang -diikutkan- dalam acara tersebut. memang ada hal janggal, di sana. dan yang lebih janggal, juga menjengkelkan, adalah mereka yang mengatasnamakan BEM dan Mahasiswa se-Indonesia sebagai patron politik sebuah partai nasional.
maka gerakan mahasiswa, menurutku bukan lagi tanpa ideologi, bahkan terlalu kental dengan ideologi partai-partai politik tertentu. inilah buah senioritas, dan intervensi ideologi terhadap gerakan mahasiswa,

5:27 AM  

Post a Comment

<< Home

<